Kamis, 10 Maret 2016
Rabu, 20 Januari 2016
KEPEMIMPINAN (Teori Organisasi Umum)
Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan
itu termasuk kedalam suatu kerja sama didasarkan kepada kemampuan orang
tersebut, dan kepemimpinan itu juga di ratikan oleh para pendapat ilmuwan
diantaranya :
Menurut
Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan
atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada
kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai
tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
Menurut
Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang
didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain
untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki
keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Moejiono
(2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh
satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang
membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance
induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau
pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk
kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Dari
beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan
kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan
tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus
dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi
atau kelompok.
Tipe- Tipe Kepemimpinan
Ada enam
tipe kepemimpinan yang diakui keberadaannya secara luas.
1) Tipe
pemimpin Otokratis
Yaitu
seorang pemimpin yang otokratis adalah seorang pemimpin yang:
•
Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
•
Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
•
Menganggap bawahan sebagai alat semata- mata
• Tidak
mau menerima kritik, saran, dan pendapat
•
Terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya
• Dalam
tindakan penggerakannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur
paksaan dan punitif (bersifat menghukum)
2) Tipe
Militeristis
Yaitu
seorang pemimpin yang bertipe militeristis adalah seorang pemimpin yang
memiliki sifat- sifat:
• Sering
mempergunakan sistem perintah dalam menggerakkan bawahannya
• Senang
bergantung pada pangkat dan jabatan dalam menggerakkan bawahannya
• Senang
kepada formalitas yang berlebih- lebihan
•
Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
• Sukar
menerima kritikkan dari bawahan
•
Menggemari upacara- upacara untuk berbagai acara dan keadaan
3) Tipe
Paternalistis
Yaitu
seorang pemimpin yang:
•
Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
•
Bersikap terlalu melindungi
• Jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan dan inisiatif
• Jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan
fantasinya.
• Sering
bersikap maha tahu
4) Tipe
Kharismatis
Hingga
kini para pakar belum berhasil menemukan sebab- sebab mengapa seorang pemimpin
memiliki kharisma, yang diketahui adalah bahwa pemimpin yang demikian mempunyai
daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang
jumlahnya sangat besar. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab
seorang menjadi pemimpin yang kharismatis, maka sering dikatakan bahwa pemimpin
yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers).
5) Tipe
Laissez Faire
Yaitu
seorang yang bersifat:
• Dalam
memimpin organisasi biasanya mempunyai sikap yang permisif, dalam arti bahwa
para anggota organisasi boleh saja bertindak sesuai dengan keyakinan dan hati
nurani, asal kepentingan bersama tetap terjaga dan tujuan organisai tetap
tercapai.
•
Organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota
organisasi terdiri dari orang- orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang
menjadi tujuan organisasi, sasaran yang dicapai, dan tugas yang harus
dilaksanakan oleh masing- masing anggota.
•
Seorang pemimpin yang tidak terlalu sering melakukan intervensi dalam kehidupan
organisasional.
•
Seorang pemimpin yang memiliki peranan pasif dan membiarkan organisasi berjalan
dengan sendirinya
6) Tipe
Demokratis
Yaitu
tipe yang bersifat:
• Dalam
proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia
adalah makhluk termulia di dunia
• Selalu
berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan
kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya
• Senang
menerima saran, pendapat bahkan kritik dari bawahannya
• Selalu
berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses dari padanya.
• Selalu
berusaha mengutamakan kerjasama dan kerja tim dalam usaha mencapai tujuan
•
Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin
• Para
bawahannya dilibatkan secara aktif dalam menentukan nasib sendiri melalui peran
sertanya dalam proses pengambilan keputusan.
TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN
1. Teori
Sifat
Teori
ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin
itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang
berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi
yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau
ciri-ciri di dalamnya. Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut
Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
–
pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas,
pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;
– sifat
inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi,
keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi
pendengar yang baik, kapasitas integratif;
–
kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas,
membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan
berkomunikasi secara efektif.
Walaupun
teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat
deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan
efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun
apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya
mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat
diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
2. Teori Perilaku
Dasar
pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu
ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan.
Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
a. konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku
seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung,
membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta
memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan
perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
b. berorientasi kepada bawahan dan produksi
perilaku
pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan
atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan
serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan
perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan
penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan
penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada
sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya
ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan
model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua
dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan
kerja.
Kecenderungan
perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi
dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)
3. Teori Situasional
Keberhasilan
seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan
dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan
dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu
dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan
tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
* Jenis
pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk
dan sifat teknologi yang digunakan;
*
Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma
yang dianut kelompok;
*
Rentang kendali;
*
Ancaman dari luar organisasi;
*
Tingkat stress;
* Iklim
yang terdapat dalam organisasi.
Efektivitas
kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi yang
dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan mampu
memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud
adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena
tuntutan situasi tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah model-model
kepemimpinan berikut:
a. Model kontinuum Otokratik-Demokratik
Gaya dan
perilaku kepemimpinan tertentu selain
berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, juga berkaitan dengan
fungsi kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan. Contoh: dalam hal
pengambilan keputusan, pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan
sendiri, ciri kepemimpinan yang menonjol
ketegasan disertai perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas.Sedangkan
pemimpin bergaya demokratik akan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Ciri
kepemimpinan yang menonjol di sini adalah menjadi pendengar yang baik
disertai perilaku memberikan perhatian
pada kepentingan dan kebutuhan bawahan.
b. Model ” Interaksi Atasan-Bawahan” :
Menurut
model ini, efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi yang
terjadi antara pemimpin dan bawahannya dan sejauhmana interaksi tersebut
mempengaruhi perilaku pemimpin yang bersangkutan.
Seorang akan menjadi pemimpin yang efektif, apabila:
* Hubungan
atasan dan bawahan dikategorikan baik;
* Tugas
yang harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi;
* Posisi
kewenangan pemimpin tergolong kuat.
c. Model Situasional
Model
ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada
pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan
tingkat kematangan jiwa bawahan. Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam
model ini adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya
dan hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensi tersebut, gaya kepemimpinan
yang dapat digunakan adalah
*
Memberitahukan;
*
Menjual;
*
Mengajak bawahan berperan serta;
*
Melakukan pendelegasian.
d. Model ” Jalan- Tujuan “
Seorang
pemimpin yang efektif menurut model ini adalah pemimpin yang mampu menunjukkan
jalan yang dapat ditempuh bawahan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal
tersebut yaitu kejelasan tugas yang harus dilakukan bawahan dan perhatian
pemimpin kepada kepentingan dan kebutuhan bawahannya. Perilaku pemimpin
berkaitan dengan hal tersebut harus
merupakan faktor motivasional bagi bawahannya.
e. Model “Pimpinan-Peran serta Bawahan” :
Perhatian
utama model ini adalah perilaku pemimpin dikaitkan dengan proses pengambilan
keputusan. Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus
diselesaikan oleh bawahannya.
Salah
satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanya serangkaian
ketentuan yang harus ditaati oleh bawahan dalam menentukan bentuk dan tingkat
peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan. Bentuk dan tingkat peran serta
bawahan tersebut “didiktekan” oleh situasi yang dihadapi dan masalah yang ingin
dipecahkan melalui proses pengambilan keputusan.
SUMBER :
Senin, 14 Desember 2015
HUBUNGAN ANTARA KEKUASAAN, PENGARUH & MODEL 2 FISHER DALAM MENGAMBIL KEPUTUSANNYA
HUBUNGAN ANTARA KEKUASAAN DAN PENGARUH
A. KEKUASAAN
kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu (a quality inherent in an interaction between two or more individuals). Jika setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengaruhi tindakan satu sama lain, maka yang muncul dalam interaksi tersebut adalah pertukaran kekuasaan.
Menurut French dan Raven, ada lima tipe kekuasaan, yaitu :
1. Reward power
Tipe kekuasaan ini memusatkan perhatian pada kemampuan untuk memberi ganjaran atau imbalan atas pekerjaan atau tugas yang dilakukan orang lain. Kekuasaan ini akan terwujud melalui suatu kejadian atau situasi yang memungkinkan orang lain menemukan kepuasan. Dalam deskripsi konkrit adalah ‘jika anda dapat menjamin atau memberi kepastian gaji atau jabatan saya meningkat, anda dapat menggunkan reward power anda kepada saya’. Pernyataan ini mengandung makna, bahwa seseorang dapat melalukan reward power karena ia mampu memberi kepuasan kepada orang lain.
2. Coercive power
Kekuasaan yang bertipe paksaan ini, lebih memusatkan pandangan kemampuan untuk memberi hukuman kepada orang lain. Tipe koersif ini berlaku jika bawahan merasakan bahwa atasannya yang mempunyai ‘lisensi’ untuk menghukum dengan tugas-tugas yang sulit, mencaci maki sampai kekuasaannya memotong gaji karyawan. Menurut David Lawless, jika tipe kekuasaan yang poersif ini terlalu banyak digunakan akan membawa kemungkinan bawahan melakukan tindakan balas dendam atas perlakuan atau hukuman yang dirasakannya tidak adil, bahkan sangat mungkin bawahan atau karyawan akan meninggalkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
3. Referent power
Tipe kekuasaan ini didasarkan pada satu hubungan ‘kesukaan’ atau liking, dalam arti ketika seseorang mengidentifikasi orang lain yang mempunyai kualitas atau persyaratan seperti yang diinginkannya. Dalam uraian yang lebih konkrit, seorang pimpinan akan mempunyai referensi terhadap para bawahannya yang mampu melaksanakan pekerjaan dan bertanggung jawab atas pekerjaan yang diberikan atasannya.
4. Expert power
Kekuasaa yang berdasar pada keahlian ini, memfokuskan diripada suatu keyakinan bahwa seseorang yang mempunyai kekuasaan, pastilah ia memiliki pengetahuan, keahlian dan informasi yang lebih banyak dalam suatu persoalan. Seorang atasan akan dianggap memiliki expert power tentang pemecahan suatu persoalan tertentu, kalau bawahannya selalu berkonsultasi dengan pimpinan tersebut dan menerima jalan pemecahan yang diberikan pimpinan. Inilah indikasi dari munculnya expert power.
5. Legitimate power
Kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang sebenarnya (actual power), ketika seseorang melalui suatu persetujuan dan kesepakatan diberi hak untuk mengatur dan menentukan perilaku orang lain dalam suatu organisasi. Tipe kekuasaan ini bersandar pada struktur social suatu organisasi, dan terutama pada nilai-nilai cultural. Dalam contoh yang nyata, jika seseorang dianggap lebih tua, memiliki senioritas dalam organisasi, maka orang lain setuju untuk mengizinkan orang tersebut melaksanakan kekuasaan yang sudah dilegitimasi tersebut.
Dari lima tipe kekuasaan di atas mana yang terbaik? Scott dan Mitchell menawarkan satu jawaban. Harus dingat bahwa kekuasaan hampir selalu berkaitan dengan praktik-praktik seperti penggunaan rangsangan (insentif) atau paksaan (coercion) guna mengamankan tindakan menuju tujuan yang telah ditetapkan. Seharusnya orang-orang yang berada di pucuk pimpinan, mengupayakan untuk sedikit menggunakan insentif dan koersif. Sebab secara alamiah cara yang paling efisien dan ekonomis supaya bawahan secara sukarela dan patuh untuk melaksanakan pekerjaan adalah dengan cara mempersuasi mereka. Cara-cara koersif dan insentif ini selalu lebih mahal, dibanding jika karyawan secara spontas termotivasi untuk mencapai tujuan organisasi yang mereka pahami berasal dari kewenangan yang sah (legitimate authority).
B. PENGARUH
Sebagai esensi dari kepemimpinan, pengaruh diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan penerimaan dari kebijakan atau rencana dan untuk memotivasi orang lain agar mendukung dan melaksanakan berbagai keputusan.
Jika kekuasaan merupakan kapasitas untuk menjalankan pengaruh, maka cara kekuasaan itu dilaksanakan berkaitan dengan perilaku mempengaruhi. Oleh karena itu, cara kekuasaan itu dijalankan dalam berbagai bentuk perilaku mempengaruhi dan proses-proses mempengaruhi yang timbal balik antara pemimpin dan pengikut, juga akan menentukan efektivitas kepemimpinan.
Jenis-jenis spesifik perilaku yang digunakan untuk mempengaruhi dapat dijadikan jembatan bagi pendekatan kekuasaan dan pendekatan perilaku mengenai kepemimpinan.
Sejumlah studi telah mengidentifikasi kategori perilaku mempengaruhi yang proaktif yang disebut sebagai taktik mempengaruhi, antara lain :
-Persuasi Rasional:
Pemimpin menggunakan argumentasi logis dan bukti faktual untuk mempersuasi pengikut bahwa suatu usulan adalah masuk akal dan kemungkinan dapat mencapai sasaran.
-Permintaan Inspirasional:
Pemimpin membuat usulan yang membangkitkan entusiasme pada pengikut dengan menunjuk pada nilai-nilai, ide dan aspirasi pengikut atau dengan meningkatkan rasa percaya diri dari pengikut.
-Konsultasi:
Pemimpin mengajak partisipasi pengikut dalam merencanakan sasaran, aktivitas atau perubahan yang untuk itu diperlukan dukungan dan bantuan pengikut atau pemimpin bersedia memodifikasi usulan untuk menanggapi perhatian dan saran dari pengikut.
-Menjilat:
Pemimpin menggunakan pujian, rayuan, perilaku ramah-tamah, atau perilaku yang membantu agar pengikut berada dalam keadaan yang menyenangkan atau mempunyai pikiran yang menguntungkan pemimpin tersebut sebelum meminta sesuatu.
-Permintaan Pribadi:
Pemimpin menggunakan perasaan pengikut mengenai kesetiaan dan persahabatan terhadap dirinya ketika meminta sesuatu.
-Pertukaran:
Pemimpin menawarkan suatu pertukaran budi baik, memberi indikasi kesediaan untuk membalasnya pada suatu saat nanti, atau menjanjikan bagian dari manfaat bila pengikut membantu pencapaian tugas.
-Taktik Koalisi:
Pemimpin mencari bantuan dari orang lain untuk mempersuasi pengikut agar melakukan sesuatu atau menggunakan dukungan orang lain sebagai suatu alasan bagi pengikut untuk juga menyetujuinya.
-Taktik Mengesahkan:
Pemimpin mencoba untuk menetapkan validitas permintaan dengan menyatakan kewenangan atau hak untuk membuatnya atau dengan membuktikan bahwa hal itu adalah konsisten dengan kebijakan, peraturan, praktik atau tradisi organisasi.
-Menekan:
Pemimpin menggunakan permintaan, ancaman, seringnya pemeriksaan, atau peringatan-peringatan terus menerus untuk mempengaruhi pengikut melakukan apa yang diinginkan.
Pilihan mengenai perilaku mempengaruhi tergantung pada position power dan personal power yang dimiliki pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya pada situasi tertentu. Perilaku mempengaruhi seorang pemimpin secara langsung mempengaruhi sikap dan perilaku orang yang dipimpin baik berupa komitmen, kepatuhan maupun perlawanan. Hasil dari proses mempengaruhi, juga mempunyai efek umpan balik terhadap perilaku pemimpin.Selain itu, dampak kekuasaan pemimpin pada dasarnya tergantung pada apa yang dilakukan pemimpin dalam mempengaruhi orang yang dipimpin.Dengan demikian, hasil dari usaha mempengaruhi merupakan akumulasi dari keterampilan mempengaruhi, perilaku mempengaruhi, dan kekuasaan pemimpin.
DUA BUAH MODEL FISHER DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
a. Model Preskriptif
Pemberian resep perbaikan, model ini menerangkan bagaimana kelompok seharusnya mengambil keputusan
b. Model Deskriptif
Model ini menerangkan bagaimana kelompok mengambil keputusan tertentu
Model preskriptif berdasarkan pada proses yang ideal sedangkan model deskriptif berdasarkan pada realitas observasi
SUMBER :
https://waina270809.wordpress.com/2012/03/29/proses-organisasi/
A. KEKUASAAN
kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu (a quality inherent in an interaction between two or more individuals). Jika setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengaruhi tindakan satu sama lain, maka yang muncul dalam interaksi tersebut adalah pertukaran kekuasaan.
Menurut French dan Raven, ada lima tipe kekuasaan, yaitu :
1. Reward power
Tipe kekuasaan ini memusatkan perhatian pada kemampuan untuk memberi ganjaran atau imbalan atas pekerjaan atau tugas yang dilakukan orang lain. Kekuasaan ini akan terwujud melalui suatu kejadian atau situasi yang memungkinkan orang lain menemukan kepuasan. Dalam deskripsi konkrit adalah ‘jika anda dapat menjamin atau memberi kepastian gaji atau jabatan saya meningkat, anda dapat menggunkan reward power anda kepada saya’. Pernyataan ini mengandung makna, bahwa seseorang dapat melalukan reward power karena ia mampu memberi kepuasan kepada orang lain.
2. Coercive power
Kekuasaan yang bertipe paksaan ini, lebih memusatkan pandangan kemampuan untuk memberi hukuman kepada orang lain. Tipe koersif ini berlaku jika bawahan merasakan bahwa atasannya yang mempunyai ‘lisensi’ untuk menghukum dengan tugas-tugas yang sulit, mencaci maki sampai kekuasaannya memotong gaji karyawan. Menurut David Lawless, jika tipe kekuasaan yang poersif ini terlalu banyak digunakan akan membawa kemungkinan bawahan melakukan tindakan balas dendam atas perlakuan atau hukuman yang dirasakannya tidak adil, bahkan sangat mungkin bawahan atau karyawan akan meninggalkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
3. Referent power
Tipe kekuasaan ini didasarkan pada satu hubungan ‘kesukaan’ atau liking, dalam arti ketika seseorang mengidentifikasi orang lain yang mempunyai kualitas atau persyaratan seperti yang diinginkannya. Dalam uraian yang lebih konkrit, seorang pimpinan akan mempunyai referensi terhadap para bawahannya yang mampu melaksanakan pekerjaan dan bertanggung jawab atas pekerjaan yang diberikan atasannya.
4. Expert power
Kekuasaa yang berdasar pada keahlian ini, memfokuskan diripada suatu keyakinan bahwa seseorang yang mempunyai kekuasaan, pastilah ia memiliki pengetahuan, keahlian dan informasi yang lebih banyak dalam suatu persoalan. Seorang atasan akan dianggap memiliki expert power tentang pemecahan suatu persoalan tertentu, kalau bawahannya selalu berkonsultasi dengan pimpinan tersebut dan menerima jalan pemecahan yang diberikan pimpinan. Inilah indikasi dari munculnya expert power.
5. Legitimate power
Kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang sebenarnya (actual power), ketika seseorang melalui suatu persetujuan dan kesepakatan diberi hak untuk mengatur dan menentukan perilaku orang lain dalam suatu organisasi. Tipe kekuasaan ini bersandar pada struktur social suatu organisasi, dan terutama pada nilai-nilai cultural. Dalam contoh yang nyata, jika seseorang dianggap lebih tua, memiliki senioritas dalam organisasi, maka orang lain setuju untuk mengizinkan orang tersebut melaksanakan kekuasaan yang sudah dilegitimasi tersebut.
Dari lima tipe kekuasaan di atas mana yang terbaik? Scott dan Mitchell menawarkan satu jawaban. Harus dingat bahwa kekuasaan hampir selalu berkaitan dengan praktik-praktik seperti penggunaan rangsangan (insentif) atau paksaan (coercion) guna mengamankan tindakan menuju tujuan yang telah ditetapkan. Seharusnya orang-orang yang berada di pucuk pimpinan, mengupayakan untuk sedikit menggunakan insentif dan koersif. Sebab secara alamiah cara yang paling efisien dan ekonomis supaya bawahan secara sukarela dan patuh untuk melaksanakan pekerjaan adalah dengan cara mempersuasi mereka. Cara-cara koersif dan insentif ini selalu lebih mahal, dibanding jika karyawan secara spontas termotivasi untuk mencapai tujuan organisasi yang mereka pahami berasal dari kewenangan yang sah (legitimate authority).
B. PENGARUH
Sebagai esensi dari kepemimpinan, pengaruh diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan penerimaan dari kebijakan atau rencana dan untuk memotivasi orang lain agar mendukung dan melaksanakan berbagai keputusan.
Jika kekuasaan merupakan kapasitas untuk menjalankan pengaruh, maka cara kekuasaan itu dilaksanakan berkaitan dengan perilaku mempengaruhi. Oleh karena itu, cara kekuasaan itu dijalankan dalam berbagai bentuk perilaku mempengaruhi dan proses-proses mempengaruhi yang timbal balik antara pemimpin dan pengikut, juga akan menentukan efektivitas kepemimpinan.
Jenis-jenis spesifik perilaku yang digunakan untuk mempengaruhi dapat dijadikan jembatan bagi pendekatan kekuasaan dan pendekatan perilaku mengenai kepemimpinan.
Sejumlah studi telah mengidentifikasi kategori perilaku mempengaruhi yang proaktif yang disebut sebagai taktik mempengaruhi, antara lain :
-Persuasi Rasional:
Pemimpin menggunakan argumentasi logis dan bukti faktual untuk mempersuasi pengikut bahwa suatu usulan adalah masuk akal dan kemungkinan dapat mencapai sasaran.
-Permintaan Inspirasional:
Pemimpin membuat usulan yang membangkitkan entusiasme pada pengikut dengan menunjuk pada nilai-nilai, ide dan aspirasi pengikut atau dengan meningkatkan rasa percaya diri dari pengikut.
-Konsultasi:
Pemimpin mengajak partisipasi pengikut dalam merencanakan sasaran, aktivitas atau perubahan yang untuk itu diperlukan dukungan dan bantuan pengikut atau pemimpin bersedia memodifikasi usulan untuk menanggapi perhatian dan saran dari pengikut.
-Menjilat:
Pemimpin menggunakan pujian, rayuan, perilaku ramah-tamah, atau perilaku yang membantu agar pengikut berada dalam keadaan yang menyenangkan atau mempunyai pikiran yang menguntungkan pemimpin tersebut sebelum meminta sesuatu.
-Permintaan Pribadi:
Pemimpin menggunakan perasaan pengikut mengenai kesetiaan dan persahabatan terhadap dirinya ketika meminta sesuatu.
-Pertukaran:
Pemimpin menawarkan suatu pertukaran budi baik, memberi indikasi kesediaan untuk membalasnya pada suatu saat nanti, atau menjanjikan bagian dari manfaat bila pengikut membantu pencapaian tugas.
-Taktik Koalisi:
Pemimpin mencari bantuan dari orang lain untuk mempersuasi pengikut agar melakukan sesuatu atau menggunakan dukungan orang lain sebagai suatu alasan bagi pengikut untuk juga menyetujuinya.
-Taktik Mengesahkan:
Pemimpin mencoba untuk menetapkan validitas permintaan dengan menyatakan kewenangan atau hak untuk membuatnya atau dengan membuktikan bahwa hal itu adalah konsisten dengan kebijakan, peraturan, praktik atau tradisi organisasi.
-Menekan:
Pemimpin menggunakan permintaan, ancaman, seringnya pemeriksaan, atau peringatan-peringatan terus menerus untuk mempengaruhi pengikut melakukan apa yang diinginkan.
Pilihan mengenai perilaku mempengaruhi tergantung pada position power dan personal power yang dimiliki pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya pada situasi tertentu. Perilaku mempengaruhi seorang pemimpin secara langsung mempengaruhi sikap dan perilaku orang yang dipimpin baik berupa komitmen, kepatuhan maupun perlawanan. Hasil dari proses mempengaruhi, juga mempunyai efek umpan balik terhadap perilaku pemimpin.Selain itu, dampak kekuasaan pemimpin pada dasarnya tergantung pada apa yang dilakukan pemimpin dalam mempengaruhi orang yang dipimpin.Dengan demikian, hasil dari usaha mempengaruhi merupakan akumulasi dari keterampilan mempengaruhi, perilaku mempengaruhi, dan kekuasaan pemimpin.
DUA BUAH MODEL FISHER DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
a. Model Preskriptif
Pemberian resep perbaikan, model ini menerangkan bagaimana kelompok seharusnya mengambil keputusan
b. Model Deskriptif
Model ini menerangkan bagaimana kelompok mengambil keputusan tertentu
Model preskriptif berdasarkan pada proses yang ideal sedangkan model deskriptif berdasarkan pada realitas observasi
SUMBER :
https://waina270809.wordpress.com/2012/03/29/proses-organisasi/
Senin, 16 November 2015
PT ASTRA INTERNASIONAL TBK
I. PENDAHULUAN
Secara
umum kata perubahan sering diartikan sebagai kondisi yang berbeda dari kondisi
sebelumnya. Perubahan itu terjadi sebagai akibat dari suatu proses yang terjadi
kemudian dan menggambarkan antara sebelum dan sesudah dari peristiwa tersebut.
Perbedaan antara sebelum dan sesudah itu mungkin berkaiatan dengan perubahan
fisik, ide atau gagasan, yang hasil akhirnya mungkin positif (growth),
mungkin negatif (stagnation) atau mundur (collaps). Kurt Lewin
(1951) dalam teorinya yang dikenal force field theory, mengungkapkan
bahwa kondisi atau keadaan merupakan equilibrium (keseimbangan) dari dua
kekuatan yang berlawanan dimana sisi yang satu menunjukkan kekuatan dan
menuntut adanya perubahan (driving forces) dan disisi lain terdapat
kekuatan yang mempertahankan keberadaan (status quo) yang senantiasa menghambat
terjadinya perubahan (restraining forces). Berdasarkan teori itu
perubahan dapat dilakukan dengan menambah atau memperkuat driving forces
dan memperkecil restraining forces.
Konsep
perubahan Schermerhorn (1991) cit Rochyadi (2008), melihat ada dua
konsep tentang perubahan yaitu perubahan yang terencana (planned change)
dan perubahan yang tidak terencana (unplanned change). Perubahan yang
terencana (planned change) merupakan sebuah reaksi langsung terhadap
persepsi seseorang tentang adanya suatu celah kinerja. Artinya suatu perbedaan
antara keadaan yang diinginkan dan kenyataan yang diharapkan tidak menunjukkan
kesenjangan. Sedangkan perubahan yang tidak terencana yaitu suatu keadaan yang
terjadi secara spontan tanpa adanya perhatian seorang agen perubahan yang
mungkin dapat merusak.
Krisis
ekonomi menyebabkan Astra harus melakukan penjadwalan pembayaran utang dengan
para kreditur. Pada periode 1998-1999, Astra terpaksa mem-PHK 20.000 karyawan
tetap dan 5.000 pegawai kontrak sehingga jumlah karyawan Astra tinggal sekitar
100.000 orang. Tetapi, bisnis harus tetap berjalan. Masuknya Cycle &
Carriage (didukung raksasa finansial Jardine Matheson) sebagai pemegang
saham utama Astra dan dibukanya peluang investasi 100% kepada investor asing di
Indonesia menyebabkan berubahnya kompetisi di pasar.
Liberalisasi
perekonomian harus dijawab dengan langkah yang tepat. Hal tersebut menyebabkan
PT. Astra Internasional Tbk. melakukan perubahan manajemen sejak tahun 2001.
Manajemen Astra melakukan transformasi bisnis dan manajemen agar Astra menjadi
perusahaan yang excellent. Berdasarkan studi kasus PT. Astra Internasional Tbk,
makalah ini akan membahas faktor penyebab, langkah-langkah, tujuan dan hasil
perubahan manajemen PT. Astra Internasional Tbk.
A.
Faktor-faktor penyebab perubahan
Beberapa
faktor yang dapat mendorong terjadinya perubahan. Dean Anderson dkk (2001) cit
Rochyadi (2008), misalnya mengisyaratkan ada 7 faktor yang dapat mendorong
terjadinya perubahan, yaitu;
1. Lingkungan (environment); lingkungan yang mendorong
perubahan organisasi ini mencakup lingkungan social dan alam, ekonomi,
politik,, teknologi, demografi, serta tata aturan
2. Sukses menembus pasar (market place requirements for
success); kebutuhan dalam meraih sukses untuk menembus pasar merupakan
faktor pendorong perubahan yang berpijak pada pemahaman, keinginan dan
kebutuhan pemakai berupa layanan, produk baru, kecepatan, kesanggupan atau
kemampuan dalam memberi layanan mutu, dan tingkatan layanan pada pengguna atau
pelanggan,
3. Kepentingan usaha (business imperative); bagaimana
perusahaan harus melakukan upaya strategi untuk mencapai keberhasilan melalui
perubahan yang berpihak pada pengguna. Untuk itu perlu menata ulang kerangka
pikir secara sistimatis melalui perubahan visi, misi, tujuan, model, hasil atau
produk, dan layanan
4. Kepentingan organisasi (organizational imperatives);
secara khusus yang harus berubah dalam organisasi ialah perubahan struktur,
system proses, teknologi, sumber daya yang berbasis pada kecakapan atau
kemampuan staf dalam pelaksanaan dan penyusunan rencana strategi dalam mencapai
target.
5. Kepentingan budaya (cultural imperatives); bagaimana
norma atau nilai-nilai kelompok menjadi filosofis kerja dan pendorong
organisasi untuk membantu perubahan dengan menyususn rancangan kerja dan
strategi baru, misalnya, membentuk tim work untuk membantu layanan pendidikan
dalam mengubah budaya untuk duduk bersama antara orang tua dan guru dalam
mendisain program pembelajaran
6. Perilaku pemimpin dan karyawan (learder and employe
behavior); perilaku pimpinan dan karyawan dalam membentuk budaya organisasi
berupa gaya kepemimpinan dan suasana atau iklim serta karakter setiap personal
dalam organisasi yang dibangun sebagai perekat dalam memper-tahankan
keberhasilan.
7. Kerangka pikir pemimpin dan personal atau karyawan (leader
and employee mindset); merupakan inti dari pandangan umum, asumsi-asumsi,
kepercayaan berupa mental, model yang menyebabkan setiap personal dalam
organisasi harus melakukan pekerjaan tersebut. Oleh karena itu kita harus
mempunyai kerangka pikir, sebab hal ini secara langsung mempengaruhi kepuasan
lingkungan kita, dan perbuatan-perbuatan serta hasil yang sering menjawab
kondisi awal dalam pembentukan personality dan menstranformasi kapasitas
organisasi dalam rangka meraih keberhasilan.
B. Tujuan
perubahan
Menurut
Stephen (2001) cit Rochyadi (2008), ada dua tujuan perubahan yaitu,
pertama; perubahan yang mengupayakan perbaikan kemampuan organisasi untuk
menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam lingkungan yang dinamis, perubahan
ini senantiasa mengupayakan adanya perubahan perilaku personal (bawahan).
Perubahan organisasi merupakan tindakan beralihnya suatu organisasi dari
kondisi yang berlaku kini, menuju kondisi mendatang yang diinginkan guna
meningkatkan efektivitas. Perbaikan kemampuan organisasi untuk menyesuaikan
diri terhadap perubahan dalam lingkungan berpusat pada perubahan struktur
organisasi dalam bentuk perbaikan tugas-tugas yang secara formal dibagi-bagi,
dikelompokkan dan diorganisasikan. Perbaiakan struktur organisasi ini meliputi
;
a. Spesialisasi pekerjaan : 1) mengidentifikasi dan menyusun
struktur dan peran-peran tiap elemen dari struktur, termasuk penyusunan
prosedur pelaksanaan tugas, 2) menata peran dan tanggung jawab personil,
jaringan kemunikasi, arus pekerjaan atau hirarki
b. Rentang kendali; 1) mendefinisikan dan menyusun hubungan
yang mengkaitkan peran setiap elemen dari struktur, termasuk penyusunan
prosedur pengendalian tugas dan cara memonitoring serta mengevaluasi, 2) menata
hubungan peran dan tanggung jawab tiap personal dalam organisasi, komunikasi,
dan mengendalikan arus pekerjaan
c. Disain organisasi: pergeseran dari struktur sederhana ke
struktur yang didasarkan pada tim atau penciptaan pekerjaan, jadwal kerja,
uraian jabatan, definisi ulang, pengayaan kerja, tugas yang
diperluas-dipersempit, modifikasi sistem imbalan, merancang struktur organisasi
yang sederhana dalam fungsi struktur yang lebih luas.
Sementara
perubahan perilaku personal (karyawan) mengarah pada perubahan individu dalam
organisasi berupa perubahan sikap dan perilaku serta karakter setiap individu
atau anggota organisasi melalui suatu proses; (1) komunikasi, (2) pengambilan
keputusan, (3) pemecahan masalah, (4) gaya kepemimpinan dan (5) suasana atau
iklim dan budaya kerja yang berubah melalui peralihan suasana yang berlaku
kini, menuju suasana mendatng dalam orientasi peningkatan mutu dan efektifitas.
Perubahan perilaku ini dibangun sebagai perekat dalam meningkatkan atau
mempertahankan tingkat keberhasilan.
C. Langkah-langkah
perubahan
Menurut Kotter ( 1997), ada 8
Langkah Perubahan / Transformasi Organisasi yaitu :
1. Incease Urgency,
menumbuhkan ‘sense of urgency’ dimana setiap orang akan merasa terdorong
untuk segera melakukan perubahan yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan jika
ditemukannya alasan / faktor yang benar-benar kuat mengapa perubahan perlu
dilakukan. Untuk itu perlu ditunjukkan fakta/ data yang dapat dilihat,
dirasakan, disentuh agar orang-orang mau dan merasa perlu untuk berubah. Jika
orang tidak melihat adanya langkah perubahan yang telah dilakukan atau berupa
data / fakta bahwa mereka harus berubah maka yang terjadi adalah orang-orang
tidak akan mau berubah. Mereka akan tetap berada di zona nyaman karena mereka
merasa tidak ada alasan yang kuat untuk berubah. Harus ada rasa ‘keterdesakan’
yang bisa dilihat selain oleh pemimpin juga oleh orang yang dipimpinnya.
2. Build The Guiding team,
membantu pembentukan kelompok yang akan memandu proses perubahan (change
agents) yang mempunyai kapabilitas yang memadai baik dari sisi anggota kelompok
maupun metode pelaksanaannya. Untuk berubah diperlukan orang-orang yang yakin
bahwa perubahan akan mengarah ke arah yang lebih baik dan jumlahnya tidak
banyak. Karena itu perlu dibentuk kelompok yang tugasnya menunjukkan
antusiasme, komitmen, kepercayaan bahwa dengan perubahan yang akan dilakukan
akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Mereka inilah agen-agen perubahan yang
akan mendorong orang-orang disekitarnya untuk mendukung jalannya perubahan.
Karena itu perlu dilakukan komunikasi yang rutin dengan para agen ini agar
memantapkan tujuan perubahan, saling mendukung dan meminimalisir rasa frustasi
yang mungkin timbul.
3. Get The Right Vision.
Visi yang sudah ada harus diterjemahkan dalam bentuk strategi yang menantang
untuk dilaksanakan. Tanpa visi yang jelas, tidak akan ada yang mau mengikuti
arah perubahan yang diusung, kalau pun ada, di tengah jalan mereka akan
kehilangan arah. Visi ini harus dapat dipilah-pilah dalam time frame yang
jelas, apakah tahunan, semesteran, atau triwulan serta dengan melihat pula
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan. Dengan demikian setiap
orang akan dapat melihat arah yang jelas mengenai tahapan-tahapan yang akan
dilakukan dalam bentuk implementasi sehari-hari.
4. Communicating for Buy In.
Visi dan strategi yang disampaikan harus komunikasikan sehingga terjadi
kesamaan dan pemahaman yang baik serta dapat diterima di seluruh jajaran. Visi
yang baik harus terkomunikasi dengan jelas dan terarah. Dan yang penting adalah
bentuknya tulus, sederhana, tidak rumit serta memberikan contoh nyata (role
model) akan visi yang sudah diaplikasikan. Perbaikilah saluran-saluran
komunikasi yang digunakan sehingga pesan-pesan yang tidak perlu dapat
dieliminir. Dan dapat pula digunakan teknologi untuk membantu mempercepat
proses komunikasi (situs resmi, internal email blast, dll). Komunikasi yang
baik dapat dilakukan dengan cara: content (metaphor, analogy, simplicity,
stories, etc) & context (repetition, multiple forums, role model, events,
etc)
5. Empower Action,
mengatasi secara efektif rintangan-rintangan yang timbul yang dapat memantapkan
pengalaman dalam mengelola perubahan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan
diri. Selain itu perlu juga dukungan dalam bentuk alat-alat (resources) yang
memadai agar semua orang dapat bertindak untuk mencapai visi. Termasuk pula
adalah dorongan agar team mampu keluar dari pola pikir standar dana dapat
‘keluar’ mengambil langkah-langkah terobosan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
6. Create Short Term Win.
Meraih kemenangan-kemenangan kecil /jangka pendek. Karena perubahan pada
umumnya tidak dapat dicapai dalam tempo yang singkat maka dibutuhkan
milestone-milestone kecil untuk memberi tanda sudah sampai dimana proses perubahan
yang dijalankan. Karena itu dibutuhkan perayaan-perayaan kecil (short term
wins) dalam bentuk pemberian ‘penghargaan’ yang diperlukan agar semangat para
pengusung roda perubahan ini dapat terus dijaga agar tidak redup. Adalah perlu
untuk terus mengupayakan agar semangat para pendukung perubahan ini tetap
menyala karena proses perubahan menuntut stamina fisik & mental dalam waktu
yang panjang. Selain itu, short term wins ini juga memberi ‘isyarat’ kepada
mereka yang belum ‘bergabung’ untuk dapat bergabung karena inilah ‘jalan’ yang
‘benar’. Akan jauh lebih baik jika ‘perayaan’ meraih kemenangan kecil ini
dilakukan dalam exposure yang luas sehingga ada banyak orang yang menyaksikan
sehingga pada penerima penghargaan ini dapat lebih percaya diri, mantap dan
semakin yakin akan arah yang di tuju.
7. Don’t Let Up.
Jangan berhenti, lanjutkan terus proses perubahan sebelum visi terwujud.
Lakukan terus upaya untuk meningkatkan sense of urgency sehingga nyala api
perubahan tidak redup di tengah jalan. Selalu tunjukkanlah bahwa proses
perubahan ini masih akan berlanjut sampai tercapainya visi yang dicanangkan.
Tetapi, haruslah dicatat bahwa proses ini jangan sampai membuat kondisi fisik
dan emosi terganggu dan mengorbankan kepentingan pribadi, karena dalam jangka
panjang jika ini terjadi, yang mendapatkan imbasnya adalah proses perubahan itu
sendiri. Gunakanlah momentum-momentum, seperti misalnya pada perayaan hari jadi
perusahaan / peringatan hari besar sebagai alat bantu untuk mengkomunikasikan
bahwa perubahan belum selesai. Lakukanlah -jika perlu- perubahan sistem,
struktur, kebijakan-kebijakan, prosedur hingga kultur organisasi sehingga
sesuai dengan kondisi yang diinginkan.
8. Make change stick.
Pastikanlah agar perubahan tertanam sebagai budaya perusahaan sehingga
perubahan benar-benar mengakar sampai ke struktur organisasi yang paling bawah.
John P. Kotter mengingatkan, bila satu saja tahapan itu dilewati, maka kita
hanya akan menghasilkan apa yang disebutnya sebagai illusion of speed (kecepatan
maya) yang dapat menghasilkan perubahan yang tidak sempurna.
III. PEMBAHASAN
Grup
Astra merupakan kelompok bisnis nasional yang memiliki sistem manajemen termaju
di Indonesia. Astra menyebut sistem manajemennya dengan nama Astra Management
System (AMS). Sistem manajemen ini menjadi roda penggerak organisasi Astra
untuk mewujudkan visi, misi, tujuan, moto, dan filosofi korporat Astra.
Kehadiran AMS menjadi cermin PT. Astra Internasional Tbk sebagai organisasi
yang tanggap terhadap perubahan dan seringkali menjadi motor perubahan dalam
konteks bisnis nasional. Menurut Dean Anderson dkk (2001) cit Rochyadi
(2008), faktor yang dapat mendorong terjadinya perubahan adalah Lingkungan (environment),
sukses menembus pasar (market place requirements for success), kepentingan
usaha (business imperative), kepentingan organisasi (organizational
imperatives), kepentingan budaya (cultural imperatives), perilaku
pemimpin dan karyawan (learder and employe behavior) dan kerangka pikir
pemimpin dan personal atau karyawan (leader and employee mindset).
Manajemen
perubahan atau change management merupakan pendekatan terstruktur dalam
rangka membawa PT. Astra Internasional Tbk dari kondisi saat ini (current
state) ke masa depan yang diinginkan (desired future state) untuk
mencapai kinerja yang lebih baik. Dalam lingkungan PT. Astra Internasional Tbk,
perubahan tersebut meliputi perubahan didalam struktur organisasi, proses, tata
laksana, sumber daya manusia, pola pikir dan budaya kerja. Fokus utama dari
dari manajemen perubahan adalah sumber daya manusia yang pada akhirnya
akan mengarah kepada pembelajaran organisasi (Building Learning
Organization).
Pembelajaran
organisasi merupakan kegiatan organisasi ketika pemimpin dan karyawan secara
terus menerus meningkatkan kapasitas mereka untuk mencapai tujuan, saat pola
pikir baru dipelihara, aspirasi kolektif bebas, diutamakan dalam rangka
perbaikan dan orang-orangnya memiliki keinginan untuk belajar. Manajemen
perubahan selalu dibutuhkan oleh PT.Astra Internasional Tbk untuk
menciptakan tata kelola organisasi dan bisnis yang lebih efektif, produktif,
efisian, kreatif, dan mempunyai kinerja. Melalui perubahan yang jelas dan
terbuka, PT.Astra Internasional Tbk berpotensi untuk memperkuat dirinya
melalui kinerja dan komunikasi serta integrasi dalam kolaborasi yang
menyatukan semua fakta keunggulan di lingkungan PT.Astra Internasional
Tbk secara profesional. Manajemen perubahan PT.Astra Internasional Tbk harus
memastikan bahwa setiap kegiatan perubahan dilakukan secara terencana dan
terukur, sehingga keberhasilan penerimaan setiap orang terhadap perubahan
yang diinginkan dapat diwujudkan secara sempurna. Astra terus melakukan
perubahan sejalan dengan prinsip kaizen (continous improvement), yaitu :
1. Berfokus
pada pelanggan; fokus utama adalah kualitas produk yang bermuara pada kepuasan
pelanggan.
2. Mengadakan
peningkatan secara terus menerus; Kualitas total merupakan sine qua non
untuk keberlangsungan.
3. Mengakui masalah secara terbuka; Membangun kultur yang tidak
saling menyalahkan.
4. Mempromosikan
keterbukaan; Ilmu pengetahuan adalah untuk saling dibagikan &
hubungan-hubungan komunikasi yang mendukungnya merupakan sumber efisiensi yang
lebih besar
5. Menciptakan tim kerja; pertama, pengaruh antar sesama teman
dan kepemimpinan bisa memelihara disiplin untuk memastikan bahwa tidak ada
seorangpun dibiarkan mengganggu keseimbangan didalam tim dan keharmonisan antar
tim, kedua, setiap orang diberi semangat untuk memanfaatkan pendidikan dan
pelatihan guna memastikan bahwa kontribusi pribadi menambah nilai pada hasil
hasil tim.
6. Memanajemeni proyek melalui tim fungsional silang;
menggunakan sumber daya antar departemen bahkan dari luar perusahaan.
7. Memelihara
proses hubungan yang benar;Mendesain dan memastikan proses hubungan antar
manusianya.
8. Mengembangkan
disiplin pribadi; Melalui pendidikan, agama, dan norma norma sosial untuk
menjaga keutuhan
9. Memberikan informasi pada semua karyawan; Misi, nilai,
produk, kinerja, manusia dan rencana perusahaan dari tantangan perusahaan
menjadi tantangan pribadi.
10. Memberikan
wewenang kepada setiap karyawan; Melalui pelatihan dalam berbagai keahlian,
dorongan semangat, tanggung jawab pengambilan keputusan, akses pada
sumber-sumber data dan anggaran, timbal balik, rotasi pekerjaan dan
penghargaan.
Selain
menggunakan prinsip kaizen, PT.Astra Internasional Tbk menerapkan delapan
langkah perubahan teori Kotter (1997) yaitu incease urgency, build the guiding
team, get the right vision, communicating for buy in, empower action, create
short term win, don’t let up, make change stick. serta menggunakan peta
perjalanan manajemen transisi untuk merealisasikannya (gambar 2), yaitu :
1. Stagnation
: keadaan dimana terjadi suasana “depresi” atau hiperaktif di dalam organisasi
2. Preparation : keadaan dimana para pimpinan mulai mencoba merencanakan
dan mengkomunikasikan perubahan yang dimaksud.
3. Implementation
: keadaan dimana berbagai inisiatif perubahan dilakukan oleh sejumlah besar
orang-orang di dalam organisasi pada berbagai level manajemen.
4. Determination
: keadaan dimana terjadi konflik, pertengkaran, kegagalan dan keberhasilan yang
tidak signifikan.
5. Fruition : keadaan
dimana manfaat dari perubahaan benar-benar dirasakan.
Pada
tahapan preparation, PT Astra menerapkan Enterprise Risk Management
(ERM). PT. Astra Internasional Tbk. melepaskan sahamnya di banyak perusahaan
manufaktur, khususnya di bidang otomotif dan bisnis terkait. Astra kini
berhadapan langsung dengan konsumen yang sangat berbeda karakter dan
perilakunya. Faktor tersebut mengharuskan Astra harus mendesain ulang fokus dan
strategi bisnis
Inti
dari manajemen resiko enterprise adalah bahwa setiap entitas yang ada mempunyai
nilai untuk stakeholder. Semua entitas selalu menghadapi ketidakpastian dan
yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengelola, mengidentifikasi seberapa
besar kemungkinan ketidakpastian yang mungkin diterima untuk meningkatkan nilai
stakeholder. Ketidakpastian merepresentasikan dan peluang dimana memiliki
potensi untuk mengikis atau mengubah nilai. Manajemen resiko enterprise membuat
pengelolaan ketidakpastian menjadi lebih efektif terkait dengan resiko dan
peluang dengan tujuan untuk mempertinggi nilai. Manajemen resiko enterprise
meliputi :
1. Menyelaraskan resiko keinginan dan strategi :
mempertimbangkan entitas resiko keinginan dalam mengevaluasi alternatif yang strategis,
mengeset objek-objek yang terkait dan mengembangkan mekanisme untuk mengelola
resiko terkait.
2. Mengubah keputusan respon adanya resiko : ERP menyediakan
aturan untuk mengidentifikasi dan memilih alternatif respon / pencegahan adanya
resiko, mengurangi resiko, membagi resiko dan menerima resiko.
3. Mengidentifikasi dan mengelola resiko perusahaan : setiap
perusahaan menghadapi resiko dengan kondisi berbeda sebagai bagian dari
organisasi dan manajemen resiko memfasilitasi respon yang efektif ke
pengaruh-pengaruh terkait dan mengintegrasikan respon ke berbagai resiko yang
mungkin timbul.
4. Meraih peluang : dengan mempertimbangkan jangkauan event
yang potensial, pihak manajemen diposisikan untuk mengidentifikasi dan proaktif
merealisasikan peluang.
5. Memperbaiki penyebaran kapital (development of capital)
: mendapatkan informasi resiko yang handal dan mengijinkan pihak manajemen
untuk memprediksi semua kebutuhan kapital yang efektif dan mengubah alokasi
kapital.
Selanjutnya
pada tahap implementation, PT. Astra Internasional Tbk. melakukan
perubahan organisasi dan menetapkan figur-figur yang tepat untuk mengisi posisi
yang ada berdasarkan kebutuhan organisasi serta kompetensi baru yang
dibutuhkan. Setiap perubahan memberikan dampak yang kuat terhadap individu
karena awalnya, setiap perubahaan mendatangkan ketidakpastian. Ketidakpastian
ini hadir karena perubahaan merupakan sesuatu yang ambigu dan tidak dapat
diketahui dengan pasti hasilnya. Setiap individu memiliki persepsi
masing-masing mengenai ketidakpastian. Hal tersebut mempengaruhi efektifitas
perubahaan karena faktor yang dapat menghambat perubahan adalah ketakutan akan
ketidakpastian. Oleh sebab itu diperlukan kesiapan untuk melakukan antipasi
terhadap ketidakpastian yang terjadi. Kesiapan ini tidak hanya diperlukan
organisasi tetapi juga oleh sumber daya manusianya, karena sikap dan reaksi
manusia terhadap perubahaan turut mempengaruhi efektivitas perubahaan itu
sendiri, baik bagi individu itu sendiri maupun bagi organisasi.
Krisis
ekonomi menyebabkan Astra harus melakukan penjadwalan pembayaran utang dengan
para kreditur. Pada periode 1998-1999, Astra terpaksa mem-PHK 20.000 karyawan
tetap dan 5.000 pegawai kontrak sehingga jumlah karyawan Astra tinggal sekitar 100.000
orang. Meski sering dikatakan lebih beruntung, karyawan yang masih tinggal
(tidak diPHK) sebetulnya tidak lebih baik ketimbang yang di PHK. Mereka justru
menghadapi berbagai persoalan, baik di dalam maupun diluar pekerjaan. Persoalan
ini muncul terutama karena privatisasi umumnya diikuti dengan perubahan
kebijakan perusahaan seperti perubahan struktur organisasi, tujuan organisasi,
teknologi dan sekaligus perubahan lingkungan kerjanya. Perubahan-perubahan
tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan kebijakan Manajemen Sumber Daya
Manusia (MSDM). Sebagai contoh, jika perusahaan menerapkan kebijakan downsizing
– perusahaan tidak mengganti karyawan yang di PHK, artinya karyawan yang
bertahan harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang semula ditangani mereka
yang di PHK. Bagi karyawan yang masih bertahan memiliki beban kerja bertambah
dan tentunya menuntut mereka meluangkan lebih banyak waktu, dan mengeluarkan
lebih banyak energi. Disamping itu, tambahan pekerjaan tersebut juga secara
tidak langsung mensinyalkan bahwa karyawan harus menambah
ketrampilan/pengetahuan baru atau yang biasa disebut re-skilling.
PT.Astra Internasional Tbk. memberikan kesempatan karyawannya untuk mengikuti training
yang diselenggarakan oleh AMDI (Astra Management Development Institute),
lembaga khusus yang bertugas merekrut dan mengembangkan kualitas personil
PT.Astra Internasional Tbk.
Proses
perubahan di Astra selalu diikuti dengan proses evaluasi secara berkala, di
mana manajemen mengikuti setiap perkembangan yang terjadi. Ini untuk menjaga
jangan sampai terjadi penyimpangan dalam melakukan perubahan. Proses perubahan
tersebut digambarkan dalam bentuk roda yang terus berputar naik ke anak tangga
yang lebih tinggi. Roda tersebut mengandung fungsi dasar manajemen PDCA (Plan,
Do, Check, Action). Untuk memutar roda dilakukan melalui training masif.
Setiap roda yang naik ke tangga lebih tinggi diganjal dengan Standardization
(S) agar tidak melorot turun, sehingga PDCA berubah menjadi SCDA. Di setiap
akhir tahun, manajemen Astra mengadakan perayaan sebagai apresiasi terhadap tim
yang dinilai terbaik dalam melakukan improvement, baik teknik maupun
non-teknik. Pemenang ke-1, antara lain, mendapat sepeda motor atau hadiah uang
Rp 20 juta. Award ini dimaksudkan agar seluruh perusahaan atau unit usaha Grup
Astra berlomba meraih yang terbaik dengan membangun winning team spirit. Setiap
orang Astra harus menghayati budaya dan semangat strive for excellence.
Dalam
merubah suatu organisasi dari bentuknya yang lama kearah yang lebih baru,
Morgan (1996) cit Oetomo (1998) mensyaratkan bahwa organisasi ersebut
perlu melakukan inovasi. Inovasi sendiri diartikannya sebagai perubahan yang
kreatif dengan tujuan memprakarsai masa depan yang baru. Dengan lingkungan
berkreasi yang kondusif dan menantang, wajar bila ide peningkatan dan inovasi
tumbuh subur di Astra. Menurut Stoner (1982), perubahan dapat dilakukan dengan
mengubah bidang-bidang inovasi, yaitu struktur, teknologi dan atau
orang-orangnya. Sistem administrasi back office seluruh cabang Astra
diseragamkan dengan memakai teknologi SAP. Selama ini, sistem administrasi
setiap cabang berbeda-beda sehingga masing-masing cabang membutuhkan tenaga
akunting dan Administration Dept. Head sendiri-sendiri. Kompilasi data juga menjadi
lambat. Dewasa ini, proses administrasi pemesanan mobil, pembayaran, dan
berbagai hal lainnya seragam serta online sehingga pengumpulan dan penyatuan
data di akhir bulan bisa dilaksanakan dengan cepat.
Hasil
yang diperoleh dari perubahan tersebut adalah pada saat PT.Astra Internasional
Tbk berulang tahun yang ke-48, berhasil mencatat rekor laba bersih Rp 5,4
triliun pada 2004, naik 22,3% dari 2003. Nilai hutang perusahaan pun menurun
tajam, bahkan per 31 Maret 2005 hutang Astra kepada 19 sindikasi bank asing
telah dibayar luas sehingga hutang Astra menjadi nol. Total hutang kepada
sindikasi bank asing itu US7 juta, dan telah dibayar US1 juta pada Desember
2004 serta dibayar lagi US juta pada Maret 2005. Selain itu, Astra masih
memiliki dana tunai Rp 1 triliun untuk membayar dividen. Tahapan akhir ini
disebut fase fruition pada peta perjalanan manajemen transisi.
IV. BAGAN
PT.
Astra Internasional Tbk menggabungkan prinsip Kaizen, teori Kotter (1997) dan
manajemen resiko enterprise dalam peta perjalanan manajemen transisi
perubahannya. Perubahan lingkungan bisnis global (Globalisasi) dan perubahan
teknologi telah mendorong seleksi alamiah yang mengarah kepada “yang terkuat
yang bertahan”. Keberhasilan perusahaan dalam berbisnis di pasar akan didapat
oleh perusahaan yang mampu menyesuaikan diri dengan persyaratan lingkungan saat
ini, yaitu mereka yang mampu memberikan pelayanan/menawarkan barang dan jasa
yang siap dibeli pasar. Konsekuensinya baik individu, ataupun perusahaan harus
menemukan cara menghasilkan nilai yang dapat dipasarkan sesuai dengan tuntutan
kebutuhan pasar yang dinamis.
Anonim.
2010. PT. ASTRA INTERNATIONAL Tbk : Perubahan Telah Menjadi Sistem. <http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/strategi/1id270.html>.
Diakses tanggal 6 April 2010
Asmara,
Rengga. 2006. Manajemen Transisi dan Perubahan (1). <www.eepis-its.edu>.
Diakses tanggal 6 April 2012.
Baraqah,
Munzir. 2011. Prinsip Kaizen yg Mengandung Sepuluh Prinsip. <
http://maimoonzirconesia.blogspot.com/2011/03/prinsip-kaizen-yg-mengandung-sepuluh.html>.
Diakses tanggal 07 April 2012.
Kotter,
John P. 1998. Leading Change. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Rochyadi,
E. 2008. Model Manajemen Pembaharuan. Badan pendidikan dan pelatihan daerah.
Sobirin,
Achmad. 2005. Privatisasi : Implikasinya Terhadap Perubahan Perilaku Karyawan
dan Budaya Organisasi. Jurnal Siasat Bisnis On Human Resources. Hal 19-42.
Sukamto,
Ariani Sukamto. Manajemen Resiko Enterprise. <www.gangsir.com>.
diakses tanggal 6 April 2012.
Oetomo,
Tri Widodo W. 1998. Perilaku Organisasi.
http://cindysilviahadi.blogspot.co.id/2012/05/perubahan-organisasi-studi-kasus-pt.html
Langganan:
Postingan (Atom)